Haji dan Umroh yang mabrur

Umroh

Ungkapan doa yang kerap diucapkan bagi setiap jamaah haji dan umroh baik sebelum pemberangkatan maupun setelah selesai pelaksanaan ibadah haji dan umroh adalah ” semoga menjadi mabrur”. Amin

Mendapatkan haji yang mabrur dan umroh yang maqbulah tentu merupakan harapan utama bagi bagi setiap jamaah yang berhaji dan berumroh. Karena tentu haji dan umroh yang mabrur merupakan anugerah Allah azzawajalla yang sangat istimewa, sebagaimana sabda nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam.

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: العمرةُ إلى العمرةِ كفَّارَةٌ لمَا بينَهمَا ، والحجُّ المبرورُ ليسَ لهُ جزاءٌ إلا الجنَّةُ

Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda, “ Antara Ibadah umrah ke ibadah umrah berikutnya adalah penggugur (dosa) di antara keduanya, dan haji yang mabrur tiada balasan (bagi pelakunya) melainkan surga” (HR. Bukhori dan Muslim )

Lalu apa yang dimaksud dengan mabrur ?

Dari sisi bahasa, “mabrur” adalah isim maf’ul asal kata al birru. Al birru itu artinya kebaikan. Dan “haji dan umroh yang mabrur” berarti  ibadah haji dan umroh yang mendapatkan kebaikan.

Suatu kebaikan tentu meliputi 3 pase, yaitu : 1. Fase persiapan, 2. Fase pelaksanaan, dan 3. Fase setelah pelaksanaan

Fase persiapan

Sebelum melaksanakan ibadah haji atau ibadah umroh, maka tentu setiap calon tamu Allah melakukan beberapa tahapan proses persiapan. Untuk mendapatkan haji dan umroh yang mabrur, maka sejak perencanaan, menyiapkan biaya, kelengkapan berkas administrasi, kesehatan, pendaftaran dan penetapan quota keberangkatan tentu hendak dilakukan dengan baik ( bil birri )

Sekali lagi bahwa seluruh rangkaian persiapan tersebut, tentu sudah semestiya dilakukan dengan cara – cara yang baik dan halal ( bil birri ).

Sejumlah biaya yang akan digunakan untuk pembiayaan haji dan umrohnya selayaknya dari rikzi yang sah dan halal.

Demikian juga proses pemberkasan, pendaftaran dan penetapan quota juga tentu harus dilakukan dengan jujur, tidak ada unsur kebohongan dan tanpa mendholimi pihak lain lain manapun juga.

Fase pelaksanaan

Pada fase pelaksanaan ibadah haji dan ibadah umroh, sangatlah penting memperhatikan beberapa faktor yang mendukung untuk mendapatkan haji dan umroh yang mabrur, diantaranya :

  1. Keihklasan

Keihklasan merupakan faktor utama yang mesti dimiliki seseorang yang melaksanakan ibadah haji dan umroh, ya’ni ketika melaksanakan rangkaian ibadah haji dan umroh mampu menunjukan suatu bukti dari ketundukan seorang hamba kepada Robnya Allah Robbul izzati. Dengan demikian hati menjadi lembut dan tawadhu’ dihadapan Allah subhanahu wata’ala serta tanpa ada keluh kesah yang mengganggu kekhusyuan dalam beribadah sekalipun lelah, cuaca yang tidak nyaman, bahkan terkadang haos dan lapar.

Surah Al Bayyinah (البينة), Ayat: 5

وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤْتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلْقَيِّمَةِ

Artinya : Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus

2. Pelaksanaan ibadah sesuai dengan ketuan – ketentuan yang telah ditetapkan

Dalam pelaksaannya dituntut agar memenuhi syarat – syarat dan rukun haji dan umroh yang telah ditetapkan Allah dan Rasul-Nya.

Adapun syarat – syarat dan rukun haji ini juga dikenal dengan istilah manasiq haji.

وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ للهِ فَإِنْ أُحْصِرْتُمْ فَمَا اسْتَيْسَرَ مِنَ الْهَدْيِ وَلاَ تَحْلِقُوا رُءُوسَكُمْ حَتَّى يَبْلُغَ الْهَدْيُ مَحِلَّهُ فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوْ بِهِ أَذًى مِّن رَّأْسِهِ فَفِدْيَةُُ مِّنْ صِيَامٍ أَوْ صَدَقَةٍ أَوْ نُسُكٍ فَإِذَآ أَمِنتُمْ فَمَن تَمَتَّعَ بِالْعُمْرَةِ إِلَى الْحَجِّ فَمَا اسْتَيْسَرَ مِنَ الْهَدِْي فَمَن لَّمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ فِي الْحَجِّ وَسَبْعَةٍ إِذَارَجَعْتُمْ تِلْكَ عَشَرَةٌ كَامِلَةٌ ذَلِكَ لِمَن لَّمْ يَكُنْ أَهْلُهُ حَاضِرِي الْمَسْجِدِ الْحَراَمِ وَاتَّقُوا اللهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah. Jika kamu terkepung (terhalang oleh musuh atau karena sakit), maka (sembelihlah) kurban yang mudah didapat, dan jangan kamu mencukur kepalamu sebelum kurban sampai ke tempat penyembelihannya. Jika ada di antaramu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu dia bercukur), maka wajiblah atasnya berfidyah, yaitu berpuasa, atau bersedekah, atau berkurban. Apabila kamu telah (merasa) aman, maka bagi siapa yang ingin mengerjakan umrah sebelum haji (di dalam bulan Haji), (wajiblah dia menyembelih) kurban yang mudah didapat. Tetapi jika dia tidak menemukan (binatang kurban atau tidak mampu), maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali. Itulah sepuluh (hari) yang sempurna. Demikian itu (kewajiban membayar fidyah) bagi orang-orang yang keluarganya tidak berada (di sekitar) Masjidil Haram (orang-orang yang bukan penduduk kota Mekkah). Dan bertakwalah kepada Allah dan ketauhilah bahwa Allah sangat keras siksa-Nya”.

(Al-Baqarah )

3. Meninggalkan larangan – larangan dalam berhaji

Beberapa larangan yang sudah seyogyanya wajib dijauhi, baik bentuk – bentuk prilaku yang telah ditentukan maupun segala hal – hal yang bertentangan dengan akhlaq mulia, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala

الْحَجُّ أَشْهُرُُ مَّعْلُومَاتُُ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلاَ رَفَثَ وَلاَ فُسُوقَ وَلاَ جِدَالَ فِي الْحَجِّ

“(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi. Barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat kefasikan, dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji”. [Al-Baqarah: 197]

Fase pasca pelaksanaan ( Setelah menunaikan ibadah haji )

Haji dan umroh yang mabrur bukan hanya sekedar harapan dan doa, akan tetapi perlu ikhtiar yang konsisten bahkan setelah selesai melaksanakan ibadah haji dan umroh dimana alhujjaj telah berada kembali di tanah . Diantara cara – cara menjaga haji dan umroh yang mabrur, ya’ni

  1. Konsisten mengingat akan Allah subhanahu wata’ala

Setelah pelaksanaan ibadah haji harus tetap konsisten untuk selalu mengingat Allah subhanahu wata’ala disepanjang waktu dan mengimplikasikan dalam semua aspek kehidupan.

Hendaknya memiliki peningkatan kemampuan yang lebih baik dalam mengelola perasaan, fikiran serta prilaku agar sesuai dengan ridho Allah subhanahu wataala. Sebagaimana firman Allah subhanahu wataala :

Surah Al Baqarah (البقرة), Ayat: 200

فَإِذَا قَضَيْتُم مَّنَٰسِكَكُمْ فَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ كَذِكْرِكُمْ ءَابَآءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا فَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَقُولُ رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِى ٱلدُّنْيَا وَمَا لَهُۥ فِى ٱلْءَاخِرَةِ مِنْ خَلَٰقٍ

Artinya : Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada orang yang bendoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia”, dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat.

2. Menjaga prilaku yang baik kepada sesama manusia disapanjang waktu

Diantara hadits rasulullah yang menerangkan tentang haji mabrur, yaitu :

قالوا: يَا رَسُولَ اللهِ، مَا الْحَجُّ الْمَبْرُوْرُ؟ قال: “إِطْعَامُ الطَّعَامِ، وَإِفْشَاءُ السَّلَامِ
Artinya, “Para sahabat berkata, ‘Wahai Rasulullah, apa itu haji mabrur?’ Rasulullah menjawab, ‘Memberikan makanan dan menebarkan kedamaian.’”
سئل النبي ما بر الحج قال إطعام الطعام وطيب الكلام وقال صحيح الإسناد ولم يخرجاه

Artinya, “Rasulullah SAW ditanya tentang haji mabrur. Rasulullah kemudian berkata, ‘Memberikan makanan dan santun dalam berkata.’

Dari hadits nabi di atas memberikan petunjuk bahwa ciri – ciri seseorang yang telah mendapatkan haji dan umroh yang mabrur  diantaranya :

  1. Selalu menjadi orang yang menjaga kedamaian bagi umat manusia.
  2. Dapat menjaga lisan dalam berbicara serta dalam mengeluarkan statementnya yang selalu santun dan tidak menimbulkan kerugian bagi pihak manapun
  3. Memiliki kepedulian sosial yang cukup baik, terutama membantu meringankan beban fakir – muskin, orang – orang yang tidak mampu. Selain kepedulian sosial dalam bentuk materi, tentu juga penting memiliki peran aktif memperjuangkan dari sisi politik, sosial, hukum dan budaya yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara adil dan merata.

Wallahu alam bissawab

Penulis : Abi Rayyan

Informasi dan konsultasi, silahkan klik di sini / hub by whatsApp : +6282221897286