Jenis -jenis ibadah Haji

Umroh

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ

 (Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.

Haji adalah merupakan salah satu ibadah mahdhoh dimana waktu pelaksanaannya, tempat melakukan dan tatacaranya semuanya telah ditentukan oleh Allah subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya.

Kemudian dalam fiqh, tatacara pelaksanaan ibadah haji dibagi menjadi 3, yaitu :

Haji Ifrad (mendahulukan Haji daripada Umroh)

Haji ifrod adalah dalam pelaksanaannya yaitu seseorang hanya melakukan haji saja dibulan haji tanpa melakukan umroh pada bulan haji tersebut. Sedang umroh akan dilakukan pada bulan setelah haji.

Ketika sampai di Makkah, langsung melakukan thowaf qudum sebanyak 7 kali putaran, lalu sholat sunat di maqam Ibrahim, setelah itu bersa’i 7 kali. Adapun setelah sa’i tanpa bertahallul. Dalam kondisi berihram dengan menta’ati segala larangan – larangannya hingga tanggal 10 zul hijjah.

Setelah seluruh rangkaian haji telah selesai, maka yang bersangkutan apabila yang bersangkutan akan melaksanakan umroh kapan saja diawali kembali menggunakan ihram dan miqod untuk umroh.

Bagi yang melaksanakan haji ifrod tidak dituntut untuk membayarkan dam ( tidak perlu menyembelih seekor kambing )

Haji Qiran (melaksanakan Haji sekaligus Umrah)

Bagi yang berhaji qiron, berniat untuk haji dan untuk umroh dengan cara bersamaan dalam bulan haji ditahun yang sama. Ketika masuk ke kota Makkah, maka yang bersangkutan langsung melakukan thowaf qudum serta bersa’i namun tidah tahallul sampai dengan tanggal tanggal 10 Dzul Hijjah.

Yang bersangkutan karena melakukan haji qiran, maka baginya dituntut untuk bayar “dam” yaitu menyembelih seekor kambing atau seper tujuh dari sapi atau unta yang dilakukan pada nahar  tanggal 10 Dzul Hijjah atau di hari-hari tasyriq (tanggal 11, 12, 13 Dzul Hijjah).

Haji Tamattu’ (mendahulukan Umrah baru kemudian Haji) :

Haji tamattu adalah seseorang memasuki kota mekkah dengan berihram untuk umroh, lalu begitu tiba di makkah, melakukan thowaf tujuh kali, sa’i sofa marwah tujuh kali, kemudian dilanjutkan dengan tahallul umroh. Dengan demikian karena yang bersangkutan sudah bertahallul, maka segala larangan ihram tidak lagi berlaku pada dirinya.

Selanjutnya pada tanggal 8 zul hijjah, maka yang bersangkutan bermiqad di Makkah untuk haji, lalu berpindah dari tempat tinggalnya di Makkah menuju Arofah dalam keadaan ihram untuk haji. Dan seterusnya melaksanakan seluruh rangkaian ibadah hajinya secara tuntas.

Bagi yang berhaji tamattu, maka diwajibkan untuk menyembelih Dam yaitu seekor kambing atau sepertuju sapi ataupun onta. Bila tidak mampu menyembelih, maka wajib berpuasa 10 hari; 3 hari di waktu haji (boleh dilakukan di hari tasyriq). Namun yang lebih utama dilakukan sebelum tanggal 9 Dzul Hijjah/hari Arafah) dan 7 hari setelah pulang ke kampung halamannya. Banyak jama’ah yang memilih Haji tamattu karena relative terlebih mudah karena selesai tawaf dan sai langsung tahallul agar terbebas dari larangan selama ihram.

Wallahu a’lam bissawab

Jika terdapat kekeliruan, silahkan sampaikan kepada kami agar segera dikoreksi

Hubungi kami, dengan klik di sini