Makna Tarwiyah

Pada hari ke 8 bulan zul hijjah, dikenal denagn hari tarwiyah. Lalu apa yang dimaksud dengan hari tarwiyah itu ?

Secara etimologi, kata tarwiyah merupakan masdar ( kata sifat ) yang berasal dari rawa – yarwi yang mengandung banyak makna, dianatara maknanya adalah menceritakan, mengeluarkan, memancarkan, melewati, mengantar, menyediakan minum dan berakhir.

Adapun tanggal 8 zul hijjah dinamakan tarwiyah, diantaranya memiliki dua alasan, yaitu :

Pertama : Dimana pada malam 8 zul hijjah, nabiullah Ibrahim alaihissalam bermimpi bahwa dalam mimpinya diperintahkan untuk menyembelih putra beliau satu – satunya yang bernama nabi Ismail alaihissalam. Setelah beliau mimpi di malam hari itu, maka beliau berfikir secara terus – menerus dengan sungguh – sungguh apakah mimpinya tersebut dari Allah azza wajalla ? proses berfikir itu dengan berbagai pertanyaan dalam diri beliau disebut dalam bahasa arab dengan kata “ Yurawwi “. Karena itu tanggal 8 zul hijjah disebut dengan hari tarwiyah yang artinya hari berfikir.

Kemudian pada malam arofah, nabi Ibrahim alaihissalam kembali mengalami mimpi yang sama, bahwa diperintahkan untuk menyembelih putranya tercinta Nabi Ismail alaihissalam. Setelah mimpi kedua kalinya, maka pada tanggal 9 zul hijjah siang hari itu beliau meyakini ( arofa ) bahwa mimpinya itu adalah datangnya dari Allah robbul izzati. Diantara makna arofa adalah mengetahui ( meyakini sesuatu ), karena itu salah satu sebab dimana pada tanggal 9 zul hijjah itu disebut arofah.

Kemudian beliau kembali bermimpi yang sama pada malam ke-sepuluh zul hijjah, pada esok hari tepatnya tanggal sepuluh zul hijjah, beliau dan putra tercintahnya melaksanakan perintah Allah subhanahu wata’ala yaitu menyembelih putra tercinta yaitu nabi Ibrahim alaihissalam, maka hari kesepuluh zul hijjah itu disebut dengan hari nahar ( hari raya idul adha ). Maha besar Allah subhanahu wata’ala yang menggantikan nabi Ibrahim alaihissalam dengan seekor domba besar dan sehat sebagai qurban yang berkah.

Alquranul karim mengabadikan kisah yang penuh makna ini dalam surat as-saffat, 102 – 103.

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis (nya), (nyatalah kesabaran keduanya).Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu”, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.”(QS. Ash-Shafat: 102-107)

Kedua, Alasan lain bahwa pada haji wada’, dimana pada hari kedelapan zul hijjah mereka yang akan berhaji menuju mina dalam keadaan berihram dan bermalam di sana mereka mengumpulkan air sebagai bekal wuquf di arofah karena di arofah kala itu tidak ada air. Proses mengumpulkan air ( mempersiapkan air ) dalam bahasa arab disebut dengan “Yatarawwauna /tarwiyah ). Jadi hari tanggal 8 zul hijjah merupkan hari persiapan air atau disebut juga dengan hari tarwiyah. Setelah mereka mengumpulkan air, maka pada pagi hari tanggal 9 zul hijjah mereka berangkat menuju pada arofah untuk mengikuti prosesi haji yang diawali pada waktu dzuhur tiba.

Hukum melaksanakan tarwiyah adalah sunat. Kaidah fikh tentang perbuatan sunat adalah “ Ma yusabu ala fi’lihi wa la yu’aqobu ala tarkihi “ Artinya berfahala bagi yang mengerjakannya dan tidak berdausa bagi yang tidak mengerjakannya. Wallahu a’lam

Koreksi dan informasi, silahkan klik di sini