Dalam tafsir Jalalain ditegaskan (Berpegang teguhlah kamu dengan tali Allah) maksudnya agama-Nya (kesemuanya dan janganlah kamu berpecah-belah) setelah menganut Islam (serta ingatlah nikmat Allah) yakni karunia-Nya (kepadamu) hai golongan Aus dan Khazraj (ketika kamu) yakni sebelum Islam (bermusuh-musuhan, maka dirukunkan-Nya) artinya dihimpun-Nya (di antara hatimu) melalui Islam (lalu jadilah kamu berkat nikmat-Nya bersaudara) dalam agama dan pemerintahan (padahal kamu telah berada dipinggir jurang neraka) sehingga tak ada lagi pilihan lain bagi kamu kecuali terjerumus ke dalamnya dan mati dalam kekafiran (lalu diselamatkan-Nya kamu daripadanya) melalui iman kalian. (Demikianlah) sebagaimana telah disebutkan-Nya tadi (Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya supaya kamu beroleh petunjuk).

Berdasarkan uraian singkat di atas, maka dapat kita maknai dalam beberapa sikap, diantaranya yaitu :

  1. membangun persatuan dan kesatuan di kalangan orang – orang yang beriman kepada Allah adalah hukumnya wajib
  2. Bercerai berai diantara orang – orang yang telah beriman kepada Allah adalah haram hukumnya. Hal ini karena ada larangan langsung dari Allah subhanahu wataala
  3. Persatuan dan kesatuan diperintahkan dalam ayat di atas hanya dalam menjaga keimanan kepada Allah subhanahu wata’ala.
  4. Bercerai berai dilarang karena itu suatu prilaku yang tidak terpuji dan telah terjadi pada masa jahiliyah. Karena itu jika memisahkan diri dari orang – orang yang tidak beriman kepada Allah ( dari kalangan kafir dan munafik ) merupakan sesuatu yang wajar, jika dikhawatirkan merusak keimanan yang telah Allah anugerahkan berupa kenikmatan yang luar biasa.
  5. Salah satu cara menjaga keimanan kepada Allah adalah dengan cara menjalin kesatuan sesama orang – orang yang beriman agar saling menguatkan dalam keimanan itu. Adapun perbedaan pendapat dalam memahami penafsiran dalil – dalil Al quran, Hadits dan Qaul ulama merupakan suatu yang wajar dan tidak boleh menyebabkan rusaknya persatuan di kalangan orang – orang yang beriman. Dimana perbedaan pendapat dalam masalah Fiqh, sejarah dan lainnya dikarenakan latarbelakang ilmu pengetahuan dan wawasan yang berbeda diantara para ulama. Adapun orang – orang yang awam seperti penulis yang hakir ini dalam hal keagamaan diperbolehkan untuk muttabi’ kepada para ulama khair.

Wallahua’lam bissawab. Semoga bermanfa’at, Amin

Dituliskan oleh Teungku Marzuki

***Materi Khotbah Jumat, 8 Januari 2021 di Masjid Albustan Perumahan Kementerian Koperasi dan UMKM Jakarta

Mohon berkenan koreksi, langsung japri kepada Penulis, hub : 081284890717