Ciri – ciri mukmin yang memakmurkan masjid

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ فَعَسَى أُولَئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ

Artinya : “Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah. Maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS. At-Taubah [9]: 18).

Dalam firman Allah subhanahu wata’ala di atas, menerangkan beberapa penjelasan penting tentang orang – orang yang memakmurkan Masjid, yaitu, diantaranya :

Pertama, bahwa Allah subhanahu wata’ala menyebutkan di awal ayat lafadz يَعْمُرُ , sebagai sebuah kalimat fi’il ( kata kerja mufrad ), yang mengandung arti seseorang ( bersihat individu ).
Makna munfarid pada amel lafadz يَعْمُرُ  tersebut mengandung makna dimana pelakunya adalah perorangan. Dengan demikian maka untuk memahami siapa yang memakmurkan Masjid dapat dilihat ciri – ciri pelaku secara personal. Berarti orang yang memakmurkan Masjid itu merupakan orang perorang dengan sifat dan segala kebaikannya.
Kedua, lafadz مَسَاجِدَ اللَّهِ yang merupakan lafaz jamak ( banyak ) yang artinya Masjid – Masjid, yakni bukan tujuannya hanya pada satu Masjid saja. Dengan demikian maka memakmurkan Masjid – Masjid itu adalah semua Masjid yang terdapat di permukaan bumi  di wilayah mana saja dan apapun nama masjidnya nya. ( terkecuali Masjid – Masjid yang dibangun khusus untuk merusak keimanan, semisal  Masjid ad-Dhirar ( مسجد الضرار  ) di Madinah ). Pada hakikatnya di dalam ajaran Islam tidak mengenal firkahfirkah sebagai tempat beribadah, hanya saja dikalangan sebahagian umat islam masih menjadikan Masjid tertentu atau tempat – tempat tertentu sebagai identitas fiqur atau golongan tertentu.
Perbedaan tentang Masjid dalam Islam hanya semata – mata pada tataran sejarah dan afdholiyahnya bukan pada figur atau identitas golongan.
Ketiga, bahwa dalam firman Allah subhanahu wata’ala di atas menjelaskan beberapa ciri yang menunjukan bahwa seseorang tergolong sebagai orang ( personal ) yang memakmurkan Masjid – Masjidnya Allah subhanahu wata’ala di dunia ini, yaitu :
Ciri yang pertama, bahwa seseorang yang tergolong sebagai orang yang memakmurkan Masjid adalah orang yang beriman kepada Allah subhanahu wata’ala dan hari akhir.
Adapun orang – orang yang kafir yang bukan mukmin tidak dapat dikatagorikan sebagai golongan orang – orang yang memakmurkan Masjid – masjidnya Allah subhanahu wata’ala, sekalipun orang – orang yang kafir tersebut ikut menyumbang, mendukung atau mungkin membangun seluruh bangunan Masjid sekalipun.
Allah subhanahu wata’ala berfirman :

مَا كَانَ لِلْمُشْرِكِينَ أَنْ يَعْمُرُوا مَسَاجِدَ اللَّهِ شَاهِدِينَ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ بِالْكُفْرِ ۚ أُولَٰئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ وَفِي النَّارِ هُمْ خَالِدُونَ

Artinya : Tidaklah pantas orang-orang musyrik itu memakmurkan mesjid-mesjid Allah, sedang mereka mengakui bahwa mereka sendiri kafir. Itulah orang-orang yang sia-sia pekerjaannya, dan mereka kekal di dalam neraka ( Q.S. Attaubah, ayat 17 )
         Umat Islam diperlukan kehati – hatian dalam mensikapi prilaku orang – orang kafir agar tidak keliru dalam memaknai suatu kebaikan yang mereka lakukan. Karena tidak tertutup kemungkinan apa yang mereka lakukan merupakan suatu akibat ketidak pahaman atau bahkan tipu daya yang menyesatkan.
Membrikan dukungan, sumbangan, mengelola dan memfungsikannya serta beribadah di dalamnya yang dapat dikatagorikan memakmurkan Masjid apabila dilakukan semata – mata berharap ridho Allah subhanahu wataala.
Allah menjanjikan kemulian bagi orang – orang mukmin yang membangun Masjid dipermukaan bumi ini dapat kita simak sebagaimana penjelasan pada hadits nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam berikut ini :

مَنْ بَنَى لِلَّهِ مَسْجِدًا بَنَى اللَّهُ لَهُ مِثْلَهُ فِي الجَنَّةِ

Artinya : “Barangsiapa membangun masjid karena Allah Ta’ala, Allah akan buatkan yang semisal untuknya di surga” (HR. Tirmidzi no. 318 dan Ibnu Majah no. 736, shahih).

Ketika seorang mukmin memasuki sebuah Masjid maka tentu yang diharapakan adalah semata – mata untuk mendapatkan jamuan Allah subhanahu wataala dengan segala kemuliaanya. Dengan demikian maka tentu bagi mukmin akan membebaskan dirinya dari sifat ria, ujub dan takabbur atas peribatan dan kebaikan yang dilakukan baik itu ketika berada didalam Masjid maupun dalam kehidupannya sehari – hari.

      Abdur Razzaq telah meriwayatkan dari Ma’mar, dari Abu Ishaq, dari Amr ibnu Maimun Al-Audi yang mengatakan bahwa ia sempat menjumpai masa sahabat Nabi Muhammad Saw., sedangkan mereka sering mengatakan bahwa masjid-masjid itu adalah rumah-rumah Allah yang ada di bumi, dan sesungguhnya sudah merupakan hak Allah memuliakan orang-orang yang menziarahi-Nya di dalam masjid-masjid itu.
        Bila bergesernya rasa, pikiran dan sikap dari mengharap ridho Allah subhanahu wata’ala, maka mengindikasikan bahwa seseorang tersebut belum tentu termasuk orang – orang yang memakmurkan Masjidnya Allah subhanahu wata’ala, sekalipun seseorang tersebut ikut menyumbang dalam pembangunan Masjid dengan segala pengorbanannya.
        Kemudian yang mengindikasikan bahwa seseorang tergolong sebagai hamba Allah yang memakmurkan Masjid adalah beriman tentang hari akhir, dimana orientasinya dalam berbuat sesuatu adalah negeri akhirat yang abadi. Pujian dan penghargaan dari sesama manusia yang diterima atas kebaikan – kebaikan  bukan merupakan sebuah orientasi baginya sekalipun memang nyatanya akan banyak pujian dan penghargaan, jika seseorang berbuat kebaikan.
       Sebaliknya sikap cemo’ohan, sinis dan fitnah terkadang menimpa orang – orang yang beriman dalam melakukan suatu kebaikan. Namun semua cobaan yang menimpa tidak akan membuat orang – orang yang beriman itu gelisah dan kecewa.
b. Indikasi kedua yang tergolong sebagai orang yang memakmurkan Masjid adalah mendirikan sholat (  وَأَقَامَ الصَّلَاةَ ).
        Bahwa masjid yang dalam bahasa Indonesia adalah berarti tempat sujud, maka oleh karena itu kehadiran seseorang ke dalam masjid salah satu tujuan utamannya adalah untuk melaksanakan sholat dalam rangka sujud mengahambakan diri kepada Allah Robbul Izzati.
Sholat di dalam Masjid terutama sholat fardlu secara berjamaah merupakan sunnah utama  rasullullahi sallalahu alaihi wasallam
c. Indikasi ketiga bahwa seseorang tergolong sebagai yang memakmurkan Masjid adalah menunaikan zakat.
       Dimana Islam bukanlah agama yang mengajarkan sekedar ritual semata, Allah juga memerintahkan agar umat manusia saling membantu baik dalam bidang ekonomi, sosial, pendidikan dan pada segala aspek kehidupan.
Apabila perintah berzakat dikaitkan dengan Masjid, maka jelas bahwa Masjid tidak hanya memandang zat Allah Azza wajalla dengan bathin keimanan semata akan tetapi juga memandang Allah melalui kasih sayang sesama manusia terutama sesama insan yang beriman kepada Allah subhanahu wata’ala.
Di dalam Masjid tidak hanya berkumpulnya orang – orang yang mampu dari segi ekonomi, namun juga akan mendapatkan informasi tentang saudara – saudara seiman yang membutuhkan uluran tangan untuk memenuhi kebutuhan mereka.
Masjid merupakan simbul persatuan dan kepedulian terhadap sesama dalam semua aspek kebutuhan umat manusia. Sehingga dengan kehadirannya mukmin secara intens ke Masjid – Masjid paling tidak pada waktu – waktu sholat fardlu untuk berjamaah maka tentu akan meningkatkan kekuatan silaturrahim dan kebersamaan. Dimana dapat dpergunakan saling nasehat – menasehati, saling berbagi informasi dan saling menjaga agar mukmin selalu terpelihara dalam kebaikan.
Godaan dan hasutan terkadang menimpa orang – orang mukmin bukan hanya ketika berada di Pasar, di dunia usaha, politik, sosial dan budaya,  akan tetapi godaan dan hasutan juga terjadi dalam pengurusan Masjid, Musholla, Majelis – Majelis pengajian dan dalam urusan – urusan keagamaan lainnya. Untuk itu perlu menigkatkan kewaspadaan agar persatuan selalu dapat terbina dengan baik dalam ridho Allah subhanahu wata’ala.
Wallahu alam bissawab
Penulis : Teungku Marzuki
Tulisan ini diluar tanggangjawab Manajemen infomadani.com

Publikasi artikel ini, atas dukungan ” Lembaga Donatur ” ▶Klik lihat

Spread the love
Bogor, No 8 Cirimekar Kec. Cibinong Kab. Bogor - Indonesia. Mobile : +62 813-1484-0715 Email : sakinahmandiri@yahoo.com Kuasa Hukum Perusahaan : Marzuki & Associates " Advocates & Consultant