Makna keikhlasan

Dari Umar bin Khathab, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيِهِ

Artinya : “Sesungguhnya segala amalan itu tidak lain tergantung pada niat; dan sesungguhnya tiap-tiap orang tidak lain (akan memperoleh balasan dari) apa yang diniatkannya. Barangsiapa hijrahnya menuju (keridhaan) Allah dan rasul-Nya, maka hijrahnya itu ke arah (keridhaan) Allah dan rasul-Nya. Barangsiapa hijrahnya karena (harta atau kemegahan) dunia yang dia harapkan, atau karena seorang wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya itu ke arah yang ditujunya.”             

Pengertian ikhlas :

Ikhlas ialah kesesuaian perbuatan seorang mukmin antara lahir dan batinnya”.( Abu Hudzaifah Al Mar’asyi )

Ruang lingkup keikhlasan :

  1. Ikhlas dalam melakukan ibadah mahdhoh
  2. Ikhlas dalam membina rumah tangga sesuai ajaran Allah dan rasulnya
  3. Ikhlas dalam perilaku  bermuamalah
  4. Ikhlas dalam memanfa’atkan potensi alam dan melestarikannya sesuai ketentuan Allah dan rasulnya

Katagori ikhlas :

  1. Niat ( motivasi ) bagi seorang mukmin dalam berbuat kebaikan dan atau  meninggalkan keburukan semata – mata hanya meraih ridho Allah subhanahu wataala
  2. Karangka Berfikir, bersikap dan berprilaku yang berdasarkan dari alquran, hadits dan qaul ulama serta ilmu pengetahuan lainnya yang tidak bertentangan dengan ridho Allah subhanahu wataala
  3. Sikap tawakal dalam menerima suatu kenyataan dengan selalu dalam bersyukur, sabar dan tawaqqal kepada Allah

Langkah – langkah untuk dapat menumbuhkan keikhlasan pada diri seorang mukmin :

  1. Perkuatkan aqidahnya kepada Allah subhanahu wata’ala
  2. Selalu berzikir ( mengingat kebesaran Allah )
  3. Jadikan dunia ini sebagai tempat bersemai untuk akhirat nanti. Dunia ini hanya kehidupan yang sementara, sedangkan kematian akan mengakhirinya.

Doa Mohon Hati yang Khusyu’

أَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُبِكَ مِنَ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ وَ مِنْ دُعَاءٍ لاَيُسْمَعُ وَمِنْ نَفْسٍ لاَتَشْبَعُ وَمِنْ عِلْمٍ لاَيَنْفَعُ أَعُوْذُبِكَ مِنْ هَؤُلاَءِ الْأَرْبَعِ. رواه الترمذى

Alloohumma Innii A’uudzubika Minal Qolbi Laa Yakhsya’u Wamin Du’aa In Laa Yasma’u Wamin Nafsin Laa Tasyba’u Wamin ‘Ilmin Laa Yanfa’u. A’uudzubika Min Haa Ulaa Il Arba’.

Artinya : Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari hati yang tidak khusyu’, do’a yang tidak didengar, jiwa yang tidak pernah puas, dan ilmu yang tidak bermanfaat. (HR. At-Tirmidzi)

Penulis : Teungku Marzuki

Publikasi artikel ini, atas dukungan donatur  – donatur mukhlisin yang telah terdaftar ▶Klik lihat donasi & Publikasi

Spread the love
Komplek Niaga Roko Graha Cibinong Blok C no 8-B Kab. Bogor - Indonesia. Mobile : +62 813-1484-0715 Email : sakinahmandiri@yahoo.com Kuasa Hukum Perusahaan : Marzuki & Associates " Advocates & Consultant