Makna Lailatul Qodar

Harapan untuk mendapatkan kemulian di malam lailatul qodar merupakan sesuatu yang sudah semestinya bagi setiap muslim laki – laki dan perempuan. Harapan tersebut mengemuka pada setiap datangnya bulan suci ramadhan terutama pada sepulum malam terkahir.

Lailatul qodar ( لَيْلَةِ الْقَدْرِ, ) merupakan suku kata dari bahasa Arab, yang memiliki beberapa arti, diantaranya : Qodar ( الْقَدْرِ ) berarti penetapan segala sesutu, kemulian dan pembatasan

Pertama, Lailatul qodar ( لَيْلَةِ الْقَدْرِ, ) yang diartikan penetapan, sebagaimana alquranul karim surat al an’am yang menjelaskan celaan dari orang – orang kuffar, yaitu :

وَمَا قَدَرُواْ ٱللَّهَ حَقَّ قَدۡرِهِۦۤ إِذۡ قَالُواْ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ عَلَىٰ بَشَرٍ۬ مِّن شَىۡءٍ۬‌ۗ قُلۡ مَنۡ أَنزَلَ ٱلۡكِتَـٰبَ ٱلَّذِى جَآءَ بِهِۦ مُوسَىٰ نُورً۬ا وَهُدً۬ى لِّلنَّاسِ‌ۖ تَجۡعَلُونَهُ ۥ قَرَاطِيسَ تُبۡدُونَہَا وَتُخۡفُونَ كَثِيرً۬ا‌ۖ وَعُلِّمۡتُم مَّا لَمۡ تَعۡلَمُوٓاْ أَنتُمۡ وَلَآ ءَابَآؤُكُمۡ‌ۖ قُلِ ٱللَّهُ‌ۖ ثُمَّ ذَرۡهُمۡ فِى خَوۡضِہِمۡ يَلۡعَبُونَ

Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya di kala mereka berkata: “Allah tidak menurunkan sesuatupun kepada manusia”. Katakanlah: “Siapakah yang menurunkan kitab [Taurat] yang dibawa oleh Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia, kamu jadikan kitab itu lembaran-lembaran kertas yang bercerai-berai, kamu perlihatkan [sebagiannya] dan kamu sembunyikan sebagian besarnya, padahal telah diajarkan kepadamu apa yang kamu dan bapak-bapak kamu tidak mengetahui [nya]?” Katakanlah: “Allah-lah [yang menurunkannya]”, kemudian [sesudah kamu menyampaikan Al Qur’an kepada mereka], biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya[

حمٓ (١) وَٱلۡڪِتَـٰبِ ٱلۡمُبِينِ (٢) إِنَّآ أَنزَلۡنَـٰهُ فِى لَيۡلَةٍ۬ مُّبَـٰرَكَةٍ‌ۚ إِنَّا كُنَّا مُنذِرِينَ (٣) فِيہَا يُفۡرَقُ كُلُّ أَمۡرٍ حَكِيمٍ (٤) أَمۡرً۬ا مِّنۡ عِندِنَآ‌ۚ إِنَّا كُنَّا مُرۡسِلِينَ (٥) رَحۡمَةً۬ مِّن رَّبِّكَ‌ۚ إِنَّهُ ۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡعَلِيمُ

Haa Miim [1]. (1) Demi Kitab [Al Qur’an] yang menjelaskan, (2) sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi [2] dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. (3) Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah [3]. (4) [yaitu] urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah Yang mengutus rasul-rasul, (5) sebagai rahmat dari Tuhanmu

Kedua, Lailatul qodar ( لَيْلَةِ الْقَدْرِ, ) yang berarti kemuliaan. Pada malam lailatul qodar, para malaikat turn ke langit bumi untuk memenuhi titah Allah subhanahu wataala menyampaikan rahmatnya Allah kepada alam semesta. Dan dimana pada Lailatul qodar ( لَيْلَةِ الْقَدْرِ, ) tersebut Allah menganugerahkan kebaikan lebih dari seribu malam

إِنَّآ أَنزَلۡنَـٰهُ فِى لَيۡلَةِ ٱلۡقَدۡرِ (١) وَمَآ أَدۡرَٮٰكَ مَا لَيۡلَةُ ٱلۡقَدۡرِ (٢) لَيۡلَةُ ٱلۡقَدۡرِ خَيۡرٌ۬ مِّنۡ أَلۡفِ شَہۡرٍ۬ (٣) تَنَزَّلُ ٱلۡمَلَـٰٓٮِٕكَةُ وَٱلرُّوحُ فِيہَا بِإِذۡنِ رَبِّہِم مِّن كُلِّ أَمۡرٍ۬ (٤) سَلَـٰمٌ هِىَ حَتَّىٰ مَطۡلَعِ ٱلۡفَجۡرِ (٥)

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya [Al Qur’an] pada malam kemuliaan [1]. (1) Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? (2) Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. (3) Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. (4) Malam itu [penuh] kesejahteraan sampai terbit fajar. (5)

Ketiga, qodar (  الْقَدْرِ ) yang berarti pembatasan.  Penjelasan tentang qodar ( الْقَدْرِ ) yang bermakna sempit ( pembatasan ) terdapat pada al quran surat Ar rakdu, ayat 26, yaitu :

ٱللَّهُ يَبۡسُطُ ٱلرِّزۡقَ لِمَن يَشَآءُ وَيَقۡدِرُ‌ۚ وَفَرِحُواْ بِٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَمَا ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَا فِى ٱلۡأَخِرَةِ إِلَّا مَتَـٰعٌ۬

Allah meluaskan rezki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki. Mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia itu [dibanding dengan] kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan [yang sedikit].

Berdasarkan penjelasan di atas, maka  Lailatul qodar ( لَيْلَةِ الْقَدْرِ, ), merupakan suatu peristiwa sejarah dan juga peristiwa yang berulang pada setiap datangnya bulan suci ramadhan.

Pertama, Lailatul qodar ( لَيْلَةِ الْقَدْرِ, ) sebagai peristiwa sejarah adalah  yang terjadi di gua hira pada tahun pertama kenabian dibulan suci ramadhan Allah subhanahu wataala menurunkan Al quranul karim yang pertama kepada hambanya yang paling mulia ya’ni Nabi Muhammad Sallallahu alaihi wasalam.  Pada malam tersebut itulah kemuliaan dimulai untuk seluruh umat manusia khususnya umat nabi Muhammad sallallahu alaihi wasalam hingga akhir zaman.

Al-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur dalam masa 22 tahun 2 bulan 22 hari tersebut merupakan kalamullah yang merupakan petunjuk untuk kemuliaan umat manusia, rahmat dan penyembuh dari segala penyakit kemusyrikan

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ

Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. (QS. Yunus: 57)

Kedua, Lailatul qodar ( لَيْلَةِ الْقَدْرِ, ) yang merupakan suatu peristiwa yang berulang adalah merupakan memperingati turunnya al quranul karim  yang penuh dengan hikmah serta hidayah. Adapun kehendak Allah subhanahu wata’ala pada setiap berulangnya Lailatul qodar ( لَيْلَةِ الْقَدْرِ, ) akan segala akan segala anugerah kebaikan semata – mata menjadi rahasi rabbul izzati.

Terdapat beberapa hadits yang menjelaskan tentang Lailatul qodar ( لَيْلَةِ الْقَدْرِ, ) yang terjadi pada malam – malam di bulan suci ramadhan, diantaranya, yaitu :
إِنِّى أُرِيتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ ، وَإِنِّى نُسِّيتُهَا ، وَإِنَّهَا فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ فِى وِتْرٍ
Sungguh aku diperlihatkan lailatul qadar, kemudian aku dilupakan –atau lupa- maka carilah ia di sepuluh malam terakhir, pada malam-malam yang ganjil. (Muttafaq alaih)
مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barangsiapa qiyamullail pada lailatul qadar karena iman dan mengharapkan perhitungan (pahala), diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. (HR. Bukhari dan Muslim)

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَىُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا قَالَ قُولِى اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى

Dari Aisyah ia berkata, “Aku bertanya, ‘Ya Rasulullah jika aku mengetahui bahwa malam itu adalah lailatul qadar, apa yang harus aku ucapkan waktu itu?’ Rasulullah bersabda, ‘Ucapkanlah: Allaahumma innaka ‘afuwwun kariim tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annii (Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf lagi Maha Mulia, Engkau Mencintai Pemaafan, maka maafkanlah aku).‘ (HR. Tirmidzi, shahih menurut Al-Albani).

Wallahu alam bissawab

K.H. Abi Marzuki.,

Pembina Baitul Quran dan tarbiyah Bani Rasyid

Publikasi artikel ini, atas dukungan ” Lembaga Donatur ” ▶Klik lihat

SUARA PEMBACA [contact-form-7 404 "Not Found"]
Spread the love
Bogor, No 8 Cirimekar Kec. Cibinong Kab. Bogor - Indonesia. Mobile : +62 813-1484-0715 Email : sakinahmandiri@yahoo.com Kuasa Hukum Perusahaan : Marzuki & Associates " Advocates & Consultant