Memaknai Idul Fithri

Dipenghujung bulan suci ramadhan, ya’ni tanggal 1 Syawal pada setiap tahunnya, diseluruh penjuru dunia terdengar gema takbir, tahmid dan tahlil dimana mukmin mengagungkan kebesaran Allah rabbul izzati. Hari itu merupakan hari raya idul Fithri bagi mukmin.

اَللَّهُ اَكْبَرْ اَللَّهُ اَكْبَر اَللَّهُ اَكْبَرْ ـ لآاِلَهَ اِلاَّ اللَّهُ ـ اَللَّهُ اَكْبَرْ اَللَّهُ اَكْبَرْ وَلِلَهِ الْحَمْدُ
اَللَّهُ اَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَاَصِيْلاً ـ لآ اِلَهَ اِلاَّ اللَّهُ وَلاَنَعْبُدُ اَلاَّ اِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْكَرِهَ الْكَافِرُوْنَ لآاِلَهَ اِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْـدَهُ وَنَصَرَعَبِدَهُ وَاَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ لآ اِلَهَ اِلاَّ اللَّهُ . اَللَّهُ اَكْبَرْ اَللَّهُ اَكْبَرْ وَلِلَهِ الْحَمْدُ

Allahu akbar.. Allahu akbar.. Allahu akbar..

Laa – ilaaha – illallaahu wallaahu akbar.

Allaahu akbar walillaahil – hamd.

Allahu akbar.. Allahu akbar.. Allahu akbar…..

Allaahu akbar kabiiraa walhamdulillaahi katsiiraa,…
wasubhaanallaahi bukrataw – wa ashillaa.

Laa – ilaaha illallallahu walaa na’budu illaa iyyaahu
Mukhlishiina lahuddiin
Walau karihal – kaafiruun
Walau karihal munafiqun
Walau karihal musyriku

Laa – ilaaha – illallaahu wahdah, shadaqa wa’dah, wanashara ‘abdah, – wa – a’azza – jundah, wahazamal – ahzaaba wahdah.

Laa – ilaaha illallaahu wallaahu akbar.
Allaahu akbar walillaahil – hamd.

Lalu bagaimana seorang mukmin memaknai hari raya idul fithri ?

Secara harfiah Idul Fithri merupakan dua suku kata dalam bahasa arab, yaitu Iedu ( عيد ) dan fithri ( فطر ).  Kedua kosa kata tersebut memiliki maknanya masing – masing, yaitu : Pertama, Iedu ( عيد ) berasal dari kata ( عاد – يعود ) yang berarti kembali, namun ada juga yang mengatakan bahwa kata Iedu ( عيد ) merupakan sebuah istilah yang bermakna hari ied ( Hari raya ) itu sendiri.  Kedua, kata  fithri ( فطر ), ada yang mengartikan berbuka, dimana kata fithri ( فطر ) beranggapan bersal dari kata ( أفطر ) yang memang secara harfiayah artinya berbuka setelah berpuasa. Pendapat yang lain bahwa kata fithri ( فطر ) itu diartikan suci. Pendapat yang mengartikan fithri ( فطر ), itu suci, merujuk pada hadits nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam, yaitu :

Artinya : Rasulullah SAW bersabda, ‘Tidaklah seorang anak dilahirkan, melainkan ia dilahirkan dalam keadaan fitrah (bersih/ suci). Orangtuanyalah yang menjadikan ia Yahudi, Nasrani atau Majusi (HR. Bukhari)

Kedua arti harfiyah tersebut diatas tentu dapat dikompromikan, karena pada hakikatnya dimana hari raya idul fithri adalah merupakan hari kemenangan bagi hamba – hamba yang ta’at kepada Allah subhanahu wata’ala setelah mereka melaksanakan ibadah berpuasa dan rankaian ibadah lainnya sebulan penuh dibulan suci ramadhan.

Kaum muslimin pada hari raya idul fihri saling memberikan ucapan selamat kepada sesama dengan lafadz :

جَعَلَنَا اللهُ وَإِيَّاكُمْ مِنَ الْعَائِدِيْنَ الْفَائِزِيْنَ، وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ

( Ja’alnallahu Wa iyyakum minal ‘aidin alfaizin, taqabbalallahu minna wa minkum )
Artinya : “Semoga Allah SWT menjadikan kita semua sebagai hamba-hamba-Nya yang kembali (kepada fitrah) dan sebagai hamba-hamba-Nya yang menang (melawan hawa nafsu). Dan semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah kita semua”.

Datangnya tanggal 1 syawal, selain hari yang penuh gembira, juga bercampur dengan kesedihan bagi umat Islam. Kegembiraannya disebabkan telah dapat menyempurnakan rangkaian ibadah dibulan suci ramadhan yang penuh berkah dan anugerah pahala yang berlipat ganda diberikan Allah subhanahu wataala kepada hamba – hamaba-nya.  Disamping kegembiraan umat Islam juga diliputi kesedihan yang amat sangat, hal tersebut dikarenakan ramadhan yang penuh kemulian telah berlalu dan tidak tidak ada suatu kepastian akan bertemu kembali pada tahun berikutnya. Dimana waktunya berjalan tidak ada yang tau kapan usia akan berakhir, dimana manusia akan kembali kepada Allah subhanahu wata’ala melalui kematian.

Kematian adalah suatu peristiwa pasti akan dialami setiap manusia, namun waktu, tempat, sebab dan sedang bersama siapa seseorang itu akan menemui ajalnya tidak ada satu orangpun yang mengetahuinya.

Ibnu Rajab Al-Hambali berkata,

كيف لا تجرى للمؤمن على فراقه دموع وهو لا يدري هل بقي له في عمره إليه رجوع

قلوب المتقين إلى هذا الشهر تحِن ومن ألم فراقه تئِن

ياشهر رمضان ترفق، دموع المحبين تُدْفَق، قلوبهم من ألم الفراق تشقَّق، عسى وقفة للوداع تطفئ من نار الشوق ما أحرق، عسى ساعة توبة وإقلاع ترفو من الصيام كل ما تخرَّق، عسى منقطع عن ركب المقبولين يلحق، عسى أسير الأوزار يُطلق، عسى من استوجب النار يُعتق، عسى رحمة المولى لها العاصي يوفق

“Bagaimana bisa seorang mukmin tidak menetes air mata ketika berpisah dengan Ramadhan, Sedangkan ia tidak tahu apakah masih ada sisa umurnya untuk berjumpa lagi.

Hati orang-orang yang bertakwa mencintai bulan ini, dan bersedih karena pedihnya berpisah dengannya Wahai bulan Ramadhan, Mendekatlah, berderai air mata para pecintamu, terpecah hati mereka karena perihnya berpisah denganmu

Semoga perpisahan ini mampu memadamkan api kerinduan yang membakar, Semoga masa bertaubat dan berhenti berbuat dosa mampu memperbaiki puasa yang ada bocornya, Semoga yang terputus dari rombongan orang yang diterima amalannya dapat menyusul

Semoga tawanan dosa-dosa bisa terlepaskan, Semoga orang yang seharusnya masuk neraka bisa terbebaskan. Dan semoga rahmat Allah bagi pelaku maksiat akan menjadi hidayah taufik. [ Lathaif Al-Ma’arif hal. 216, 217, 304, 388 ]

Istiqamah dijalan Allah subhanahu wata’ala dengan selalu menta’atai Allah dan rasul-nya yang disertakan membangun hubungan yang harmonis dengan sesama manusia merupakan sesuatu yang utama dalam memaknai hari raya idul fithri. Allah subhanu wata’ala menyeru agar manusia tetap ( selalu istiqomah dijalan fitrah-Nya, sebagaimana firman-Nya dalam al quranul karim, surat ar rum, ayat 30, yaitu :

فَأَقِمۡ وَجۡهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفً۬ا‌ۚ فِطۡرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِى فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيۡہَا‌ۚ لَا تَبۡدِيلَ لِخَلۡقِ ٱللَّهِ‌ۚ ذَٲلِكَ ٱلدِّينُ ٱلۡقَيِّمُ وَلَـٰكِنَّ أَڪۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ
Artinya : Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama [Allah]; [tetaplah atas] fithrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fithrah itu. Tidak ada perubahan pada fithrah Allah. [Itulah] agama yang lurus; [1] tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. ( Q.S. Ar-rum, ayat 30 )

اللَّهُمَّ لاَ تَجْعَلْهُ آخِرَ الْعَهْدِ مِنْ صِيَامِنَا إِيَّاهُ، فَإِنْ جَعَلْتَهُ فَاجْعَلْنِيْ مَرْحُوْمًا وَ لاَ تَجْعَلْنِيْ مَحْرُوْمًا

( Allahumma Laa Taj’alhu aakhirol ‘ahdi min shiyaamina iyyahu, Fain ja’altahu faj ‘alni marhuuman wala taj’alni mahruuman )

Artinya: Ya Allah, janganlah Kau jadikan bulan Ramadhan ini sebagai Bulan Ramadhan terakhir dalam hidupku. Jika Engkau menjadikannya sebagai Ramadhan terakhirku, maka jadikanlah aku sebagai orang yang Engkau sayangi.dan jangan jadikan aku orang yang Engkau murkai, Aamiin

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عُفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

( Allaahumma innaka ‘afuwwun kariimun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annii )

Artinya: Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi Ampunan dan Maha Mulia, Engkau senang memberikan ampunan, maka ampuni aku.

Wallahu’alam bissawab

K.H. Abi Marzuki

Pembina Baitul Quran wat-tarbiyah Bani Rasyid

▶Baca juga uaraian tentang wajib berzakat

Publikasi artikel ini, atas dukungan ” Lembaga Donatur ” ▶Klik lihat

Spread the love
Bogor, No 8 Cirimekar Kec. Cibinong Kab. Bogor - Indonesia. Mobile : +62 813-1484-0715 Email : sakinahmandiri@yahoo.com Kuasa Hukum Perusahaan : Marzuki & Associates " Advocates & Consultant