Sifat Empati yang makin tergerus

Kalimat Empati sangat dimengerti artinya di kalangan akademisi, terutama yang membidangi pembelajaran ilmu pengetahuan psikologi. Sedang kalangan masyarakat awam secara umum tidak demikian familiar dengan kalimat Empati tersebut. Lalu apa sebenarnya pengertian dari kalimat Empati itu ?

Secara umum yang dimaksud  dengan Empati itu adalah proses kejiwaan seseorang yang memiliki kemampuan merasakan perasaan orang lain. Pada saat yang bersamaan akan terjadi pergolakan dalam jiwa seseorang yang berempati itu larut dalam persaan orang lain.

Efek dari Empati dapat terlihat dari dua kondisi yang berbeda pada diri seseorang yang berempati, yaitu :

1. Orang yang memiliki sifat Empati merasa bahagia serta mensyukuri atas kebaikan dan keberuntungan yang didapatkan oleh orang lain, sekalipun orang yang mendapatkan kebaikan dan keberuntungan tidak ada hubungan langsung dengan dirinya. Misalanya si ( A ) mengetahui bahwa si ( B ) mendapatkan suatu kebaikan atau keberuntungan, maka si ( A ) merasa senang, bahagia dan bersyukur atas apa yang didapatakan oleh si ( B ), sekalipun si ( A ) sebenarnya tidak ada hubungan kekeluargaan ataupun pertemanan langsung dengan si ( B ).

2. Orang yang memiliki rasa emapti akan ikut merasa sedih dan prihatin atas suatu keadaan orang lain yang mengalami kesulitan dalam persoalan apapun juga.

Bullmer berpendapat bahwa empati adalah suatu proses yang terjadi ketika seseorang dapat merasakan perasaaan orang lain dan menangkap arti perasaan tersebut, lalu dikomunikasikan dengan kepekaan yang sedemikian rupa sehingga menunjukkan bahwa orang tersebut sungguh – sungguh mengerti perasaan orang lain.

Dalam Islam sikap empati diajarkan dalam ayat – ayat Al qur anul karim, diantaranya

وَٱبۡتَغِ فِيمَآ ءَاتَٮٰكَ ٱللَّهُ ٱلدَّارَ ٱلۡأَخِرَةَ‌ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ ٱلدُّنۡيَا‌ۖ وَأَحۡسِن ڪَمَآ أَحۡسَنَ ٱللَّهُ إِلَيۡكَ‌ۖ وَلَا تَبۡغِ ٱلۡفَسَادَ فِى ٱلۡأَرۡضِ‌ۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلۡمُفۡسِدِينَ

Artinya : Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu [kebahagiaan] negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari [keni’matan] duniawi dan berbuat baiklah [kepada orang lain] sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di [muka] bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. ( Q.S. Al Qosas, ayat : 77 )

مَنْ عَمِلَ صَالِحاً مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ

Artinya : “Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami Berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (Q. S. An-Nahl: 97)

Dalam ayat Al quran tersebut secara terbuka Allah subhanahu wata’ala menganjurkan agar setiap diri tidak hanya berbuat baik untuk dirinya tetapi juga memperhatikan kebaikan – kebaikan kepada orang lain.  Setiap orang pada umumnya memiliki semangat dan motivasi untuk mendapatkan kebaikan dan beruntungan untuk dirinya, keluarganya, golongannya dan orang – orang yang memiliki hubungan langsung dengan dirinya. Sedang Islam mengajarkan agar setiap diri manusia juga memikirkan kebaikan dan keberuntungan kepada setiap umat manusia walau tidak ada hubungan langsung dengan dirinya.

خير الناس أنفعهم للناس

Artinya : Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain

عَنْ أَبِي حَمْزَةَ أَنَسٍ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – خَادِمِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ ” رَوَاهُ البُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ

Dari Abu Hamzah Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu,pembantu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Salah seorang di antara kalian tidaklah beriman (dengan iman sempurna) sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Seorang pemimpin yang memiliki sifat Empati, maka kepemimpinannya akan senantiasa memperhatikan keadaan dan kepentingan rakyatnya. Dengan demikian, maka rakyat yang dipimpinnya akan dapat dipastikan dapat terjaga jaminan keamanan, kesejahteraan, hak pendidikan dan keadilan sekaligus terlindungi dari kesulitan – kesulitan hidup sebagai buah kepemimpinan dari seorang Pemimpin yang cerdas, berani, jujur dan adil.

Pada suatu ketika, Khalifah Umar bin Abdul Aziz, tanpa pengawalan berjalan sendiri ke sebuah pasar. Bliau ingin mengetahui secara langsung keadaan pasar tersebut dengan berjalan menyusuri lorong-lorong pasar, melihat-lihat situasi jual beli serta kondisi masyarakat di sana.

Dengan mengenakan pakaian sangat sederhana, maka sudah barang tentu tidak ada seorang pun mengenalinya. Bahkan ada orang yang menduga kalau dia adalah seorang kuli panggul biasa.

Orang tersebut lantas menyuruh khalifah untuk membawakan barang yang tak mampu dibawanya karena terlalu berat. Khalifah Umar pun bersedia membawakan barang milik orang itu.

Setelah selesai membawakan barang tadi sampai ke tujuan, orang tersebut ingin memberikan imbalan kepada ‘kuli panggul’ ini. Akan tetapi, khalifah menolak dengan santun sambil berkata, “Saya hanya bermaksud menolong mengangkat barang ini, bukan untuk mendapatkan upah.” Sesaat kemudian, ia minta diri.

Namun, belum jauh melangkah, seseorang memanggilnya dengan panggilan yang mulia. Mendengar itu, si pemilik barang tadi kaget. Dia baru menyadari bahwa orang yang telah disuruhnya membawa barangnya itu bukanlah orang sembarangan.

Perilaku terpuji dengan sikap Empati yang dilakukan oleh Khalifah Umar ben Abdul Azziz juga mampu dipraktekan oleh setiap pemimpin di zaman sekarang ini bukan ?. Hanya saja cukup beranikah melakukan hal serupa atas dasar ketulusannya. Wallahu alam

Setiap individu dapat dipastikan memiliki perasaan iba dan kasih sayang dalam menjalankan hidupnya, maka tergantung apakah sifat itu dipergunakan dengan semestinya atawa tidak.  Atau justru sifat iba dan kasih sayang itu dibatasi hanya untuk dirinya, keluarganya dan golongannya semata dengan mengabaikan pihak – pihak lainnya.

Mari kita perhatikan apakah pada zaman sekarang ini, masih tinggikah sifat empati dikalangan pemimpin, pejabat negara, tokoh – tokoh masyarakat dan pada kalangan masyarakat itu umumnya ?. Atau sudah tergerus oleh sifat individualis dan egois yang cenderung mementingkan diri sendiri, keluarganya dan golongannya  semata ?

Wallahu alam bissawab

Publikasi artikel ini, atas dukungan ” Lembaga Donatur ” ▶Klik lihat

Spread the love
Komplek Niaga Roko Graha Cibinong Blok C no 8-B Kab. Bogor - Indonesia. Mobile : +62 813-1484-0715 Email : sakinahmandiri@yahoo.com Kuasa Hukum Perusahaan : Marzuki & Associates " Advocates & Consultant